Sabtu, 22 Agustus 2015

Batu dan Tetesan Air

Kau tau, kadang hidup seseorang bisa seperti batu.

Lihatlah batu.
Walaupun ada yang berukuran kecil, sedang, atau besar dengan berbagai bentuknya, mereka memiliki kesamaan, keras, dan padat.

Coba kau perhatikan, bahkan sebuah batu besar sekali pun dapat hancur karena tetesan air yang dapat dikatakan lemah lembut, hampir tidak ada apa-apanya dibandingkan batu.

Sebuah batu ini terletak di sebuah pekarangan. Di atasnya, terdapat atap yang dapat melindungi setengah bagian dari badannya. Atapnya ini melindungi si batu dari sinar matahari yang panas dan hujan yang dingin. Batu itu sangatlah senang karena atap ini dapat melindunginya, walaupun tak seluruh bagian tubuhnya.

Namun sedikit yang batu itu ketahui.

Ketika hujan berhenti, dari atap pelindungnya ini masih terdapat tetesan air hujan. Tetesan air hujan tersebut jatuh dari atap yang berbentuk miring tersebut, tepat ke bagian tengah permukaan batu tersebut. Si batu menganggap hal itu bukan masalah, dibandingkan dengan jasa dari atap yang melindunginya.

Tetesan air dari atap itu terus menerus jatuh ke tempat yang sama. Si batu tak menyadari apa pun. Namun seiring berjalannya waktu dan cuaca yang tidak cerah, hujan terus turun dari langit dan ketika berhenti, tetesan air hujan dari atap.

Batu yang tak tahu menahu pun tak peduli dengan hal tersebut. Hingga akhirnya lama kelamaan, setelah berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian, ia baru menyadari bahwa ada hal yang aneh pada dirinya.

Ya, terdapat cekungan di bagian tengah permukaan batu itu. Ia bahkan tak pernah menyadari hal tersebut terjadi. Akhirnya ia pun mulai membenci hujan dan atap pelindungnya. Tapi apa daya, ia hanya sebuah batu yang tak dapat berjalan, bergerak, atau berbicara.

Semenjak saat itu, ia hanya bisa menerima perlakuan seperti itu. Ia tak dapat melakukan apapun.

Hingga akhirnya, sang batu pun terbelah menjadi dua.

Pernahkah kau merasakannya? Perasaan yang dialami oleh si batu tersebut?

Atau mungkin, kau tak percaya?

Kalau kau tak percaya,
Buktikanlah sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar