Senin, 29 Desember 2014

Tik..

Seberapa berharga sih satu detik itu? Tik.
Sebentar saja dia langsung berlalu. Tik.
Satu detik pergi lagi. Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik. Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik. Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik. Kau sadar tak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu. Tik. Tik. Tik. Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.

Jadi, apa yang selanjutnya kau lakukan? Sementara kau berpikir....... Tik!

Waktumu telah habis.

Sabtu, 27 Desember 2014

Matahariku

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.

Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup— malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendogak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.

Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?

Selasa, 23 Desember 2014

Jika..

Bagaimana jika kau bertemu jika yang lain, dan aku bukan lagi yang membuatmu berjika-jika? Bagaimana jika aku tak ada di dalam  jikamu? Atau kau yang tak pernah ada di dalam jikaku?

Apakah aku kan kembali merindu matahari?

'Kau akan merindu marahari,' jawabmu. 'Kau akan selalu merindunya. Sesekali, kau akan merindu hujan ketika matahari terlalu terik.'

Namun, di bawah payung itu, diam-diam aku berharap tak perlu ada jika yang lain yang mewarnai musim hangatmu. Juga musim hujanku.