Rabu, 21 Mei 2014

Biografi Top Ittipat "Pengusaha Muda Asal Thailand"



Kalo kita lihat iklan di TV ada iklan makanan ringan yang terbuat dari rumput laut, "Tao Kae Noi". Itu adalah makanan ringan yang berasal dari Thailand. Pengusaha yang memiliki produk itu adalah Top Ittipat, pengusaha muda asal Thailand yang saat ini menjadi pengusaha muda terkaya di Thailand di usia yang ke 26 tahun.






Bisnis game online


Sebelumnya Top Ittipat adalah pria biasa seperti anak muda pada umumnya yang sempat kecanduan game di usia ke 16 tahun. Tapi dari kesukaannya akan dunia game, Top mendapatkan uang dari menjual item senjata-senjata miliknya di game online. Dengan bisnisnya ini dia bahkan meraih penghasilan mencapai 1 juta Baht dan dapat membeli sebuah mobil seharga 600 Baht (sekitar 200 juta rupiah). Tapi karena ini adalah bisnis yang dikatakan ilegal maka rekening game online Top ditutup oleh bank.




Disaat yang bersamaan, bisnis orang tuanya mengalami kebangkrutan dan disaat yang bersamaan pula karena kemalasannya di sekolah selama ini, Top tidak berhasil masuk kuliah perguruan tinggi negeri dan harus masuk Universitas Swasta. 


Bisnis DVD Player


Dengan sisa uang yang dimilikinya Top beralih usaha ke bisnis DVD Player tapi Top ditipu mentah-mentah sebab semua DVD Playernya ternyata barang palsu dan uangnya tidak dapat kembali. Top Ittipat juga berusaha mencari pinjaman uang ke bank untuk memulai usaha baru. Namun, pihak bank tak begitu saja menyetujuinya.


Di titik inilah Top mulai menyadari kesalahannya karena telah melalaikan sekolah dan pelajaran. Di titik yang sama ini jugalah, Top mulai bersentuhan dengan kerasnya dunia bisnis. 


Hutang yang melilit usaha orang tuanya pun semakin memperburuk keadaan. Terlebih lagi rumah mereka disita pihak Bank sebagai ganti rugi tumpukan hutang kedua orang tuanya yang mencapai 12 Milliard. "Bagaikan satu cemilan diatas permukaan bumi" begitulah Top menggambarkan ketidakberdayaanya melunasi hutang-hutang ayahnya. Ditengah himpitan ini Top tetap berkeras.


Bisnis kacang kenari (chestnut)


Setelah akhirnya dapatkan pinjaman dari bank, segala hal dia coba lakukan, Top mencoba berjualan kacang (chesnut) bersama dengan pamannya. Diawali dengan mencari cara bagaimana strategi berjualan yang baik supaya bisa laris kepada para penjual kacang lainnya yang telah sukses sampai lakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik bagi produk kacangnya sehingga memiliki cita rasa yang khas dan unik. 


Lalu Top membuka kedai di mall dan belajar tentang menemukan tempat yang stategis. Sebab lokasi menjadi salah satu faktor menentukan dalam keberhasilan penjualan suatu produk. Top belajar betul bagaimana menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ilmu-ilmu pemasaran dia amati betul melalui orang-orang disekitarnya. Tidak jarang dia menulis dalam sebuah kertas kecil strategi-strategi pemasaran yang dia temukan dipasar-pasar. Diskon, tempat usaha, cara promosi semua dia praktikkan betul.


Namun berwiraswata memanglah tidak mudah. Saat Top mulai melakukan ekspansi bisnis chesnutnya secara besar-besaran, timbul suatu masalah lain dimana mesin pembuat kacang goreng yang Top pergunakan menimbulkan asap dan mengotori atap Mall sehingga harus tutup dan pihak Mall juga membatalkan kontrak kedainya.Namun lagi-lagi kegagalan menimpa. "Apakah hidup itu selalu susah seperti ini" sambil menghela nafas dalam-dalam Top lirih menyendiri dalam lorong-lorong kebangkrutan. Usaha bangkrut, modalnya habis, kuliahnya hancur, dan dia tidak punya harapan lagi. Dititik ini Top hampir putus asa. 


Orang tuanya pun memutuskan untuk pergi ke China. Top Ittipat tetap berkeras untuk bertahan di Thailand dan melanjutkan usahanya.Sampai akhirnya dia bertemu dengan pacarnya. Pacar yang selama ini dia abaikan, bukan karena apa-apa, karena takut pacarnya malu dengan keadaan Top yang menjadi pengusaha kacang bangkrut.


Bisnis rumput laut "Tao Kae Noi"


Dalam suatu perjalanan Top dengan pacarnya, Top menikmati sebuah makanan rumput laut yang dibawakan pacarnya. Bak bola lampu yang berpijar ditengah gelap. Top mendapat ide baru untuk berbisnis. Diam-diam dia menjalankan bisnis snack rumput laut tanpa sepengetahuan pacarnya. Dari bisnis jual kacang, Top beralih haluan untuk berbisnis rumput laut goreng.


Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, sekalipun akhir kisah cintanya tak memberikan kenangan yang manis sebab kekasihnya pun akhirnya meninggalkan Top dikarenakan ia lebih konsentrasi mengurus bisnis dan usahanya.


Top Ittipat pun memulai usaha kerasnya dengan mencari bahan rumput laut lalu belajar rahasia menggoreng rumput lautnya. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelajaran ini mencapai lebih dari 100 ribu Baht. Percobaan-percobaan dia lakukan untuk mendapatkan sebuah snack rumput laut yang lezat di lidah. Menggoreng dan mencicipi, dia lakukan berulang-ulang kali dengan pamannya yang setia menemani sebagai pencicip masakan Top. Namun hasil yang didapat adalah sebuah cita rasa yang pahit, jauh dari kenikmatan. Tidak mudah memang baginya untuk membuat snack rumput lautnya menjadi makanan yang enak. Ia harus mencoba berulang kali bahkan sampai pamannya masuk rumah sakit gara-gara mencicipi snack rumput laut yang dibuatnya. Tapi ia tak putus asa hingga akhirnya berhasil menemukan rasa snack rumput laut yang renyah.


Top juga harus mempelajari cara untuk mempertahankan rumput lautnya agar tidak basi jika disimpan untuk beberapa hari lamanya. Dalam tekanan yang begitu hebat Top berusaha mencari tahu tentang strategi penjualan dan inspirasi pun datang kembali untuk menjual produknya di mini market 7-Eleven.


Lagi-lagi tidak semudah membalik telapak tangan. 7-Eleven ternyata memiliki standard yang tinggi yang harus dipenuhi supaya produk Top bisa masuk pasaran.Nama Tao Kae Noi sendiri datang dari ayahnya yang menertawakan "anak kita ingin mnejadi Tao Kae Noi!". Tao Kae Noi sendiri berarti milyuner muda. Berbagai upaya Top lakukan tapi semua mengalami kebuntuan.






7-Eleven tidak langsung menerima produknya tersebut, pihak manajemen dengan keras dan 'brutal' mengkritik Top bahwa "bungkusannya terlalu jelek." Ini karena Top mencoba menjualnya dengan bungkusan plastik dan stiker yang ditempel di luar, seperti di pasar.

Ia menghabiskan waktu 2 bulan untuk mendesain bungkusan produknya ini dan akhirnya ia mendapatkan kabar baik dari "7-Eleven" yang menginginkan produknya di lebih dari 3000 cabang. Walaupun ia mendapatkan pesanan yang sangat besar, ia harus melalui memproduksi produknya melalui pabrik tanpa ada pengalaman ilmu manajemen produksi makanan di hidupnya. Terlebih ia juga harus mendapatkan sertifikasi GMP sebagai persyaratan 7-Eleven juga dalam waktu 2 bulan. Keputusasaan melanda dirinya. Top hampir-hampir memutuskan untuk berangkat ke China tapi sebelum itu terjadi Top melakukan usaha terakhirnya demi memenuhi syarat dari pihak 7-Eleven dan upaya terakhirnya kali ini tidak sia-sia. 



Karena ia tidak mendapatkan pinjaman dari bank, ia harus menjual usaha kenarinya dan mempelajari ilmu manajemen produksi makanan serta mendapatkan sertifikasi GMP.Untunglah juga ada kantor kecil milik keluarganya yang masih tersisa, yang akhirnya Top ubah menjadi sebuah pabrik kecil. Dengan susah payah semuanya dapat terpenuhi. 


Dengan begini Top berhasil memenuhi syarat ketentuan serta quota yang ditetapkan. 2 tahun kemudian Top Ittipat berhasil membayar hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya. 


Perjuangan Top Ittipat, segala kegagalan, getir dan pahit serta rasa duka dalam membangun sebuah bisnis kini mengantar Top pada sebuah kesuksesan.


Sekarang ini di Thailand siapa yang tak mengenal akan "Tao Kae Noi" produk cemilan rumput laut terlaris di Thailand bahkan telah masuk juga ke berbagai Negara tetangga termasuk Indonesia. 


Dengan penghasilan 800 juta Baht (326 Milliar) per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf maka Top Ittipat yang bernama lengkap Top Aitthipat Kulapongvanich ini telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai "A young billionaire from Thailand".


Kisah suksesnya pun diangkat ke dalam sebuah film yang berjudul The Billioner.

Berikut sinopsis ringkas nya: 

Saat usia 16, Dia adalah pencandu game online.

Saat usia 17, Ia putus sekolah untuk menjadi penjaja kacang.

Saat usia 18, Keluarganya bangkrut & meninggalkan hutang 40 juta Baht (sekitar 12 milyar rupiah)

Saat usia 19, Dia menciptakan cemilan rumput laut ‘Tao Kae Noi’ yg dijual di 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.

Kini, di usia 26, Ia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta Baht (sekitar 236 milyar rupiah) per tahun & mempekerjakan 2.000 staf. 



Namanya Top Ittipat, dan ini adalah kisah nyata hidupnya yang luar biasa. 

“Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau menyerah habislah sudah.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar